Legenda Toakala, Kera Putih dari Maros

Posted by

toakala bantimurung
Mungkin Anda pernah mendengar tentang Raja Kera dari Gunung Howakwwo, SunGokong. Raja kera ini dapat kita temui dalam Televesi, itupun jika masih ditayangkan. Namun, sayangnya postingan ini tidak bercerita tentang itu.

Kali ini saya sedang ingin Share tentang legenda Kera Putih dari Maros, atau yang biasa dikenal dengan Toakala. Motivasi saya mem-posting tentang Toakala karena waktu smp saya pernah memerankan karakter Toakala dalam suatu drama. Saya tidak tahu mengapa saya dipercayakan untuk memerankan Toakala, mudah mudahan saja bukan karena alasan “Sayalah yang paling cocok memerankan Karakter Kera Putih ini” Putihnya keren, tapi,..

Di Maros juga dikenal legenda Kera Putih atau yang biasa dikenal dengan sebutan Toakala. Dalam drama yang saya mainkan Toakala adalah seorang menteri sekaligus tangan kanan dari Raja Kera yang bernama Marakondang yang kerajaannya berada di daerah Bantimurung.

Suatu ketika Raja Marakondang terpikat oleh kecantikan dari seorang Putri kerajaan Manusia yang dipimpin oleh Raja yang Bernama Raja Pattiro. Ialah Bissu Daeng, Putri kerajaan dari Cenrana (sekarang) yang membuat Raja Marakondang jatuh cinta.

Perasaan cinta menggebu-gebu Raja Marankondang membuatnya mengutus Toakala dan Puto Pabintingparia, serta menteri lainnya untuk melamar Putri Raja Pattiro, Bissu Daeng. Sesampainya di kerajaan Pattiro, Toakala menuturkan niat baik Rajanya untuk meminang Bissu Daeng, namun sayangnya niatan baik ini hanya bertepuk sebelah tangan. Raja Pattiro menolak mentah-mentah lamaran Raja Marakondong, lantaran ia adalah Kera. Toakala dan menteri lainnya akhirnya pulang dengan membawa kekecewaan.

Sesampainya di Kerajaan. Raja Marakondang yang sedang di Mabuk cinta mendapatkan kabar yang tidak ia harapkan dari Toakala terkait penolakan terhadap lamarannya kepada Bissu Daeng. Dengan marahnya Raja Pattiro berkata:

“Tet****, raja Pattiro, na pandang entenga, kubinting kitiki sallang, ku kakkak paria tallu, la kulesserang pae-pae” (adegan dalam drama).

Dengan perasaan kesal Raja Marakondang berniat untuk berperang melawan kerajaan Pattiro, para menteri lainnya pun setuju. Namun, Toakala berpikiran lain dan menawarkan suatu rencana kepada kepada Raja Marakondang, dan Marakondang pun menyetujui rencana tersebut.

Suatu hari di kerajaan Pattiro, Bissu Daeng sedang asyik bermain-main dalam istananya. Tiba-tiba dari jendela, ia melihat seekoar anak kera dan tertarik dengan anak kera tersebut. Bissu Daeng akhirnya keluar istana dan mengejar anak kera tersebut dan bermain-main dengannya. Anak kera tersebut ternyata bagian dari rencana Toakala untuk menculik Bissu Daeng. Dari naska cerita yang katanya asli (kopian) yang sempat saya baca beberapa bertuliskan aksara lontara, peristiwa ini sangat panjang dan banyak sekali momen yang tidak diangkat dalam drama, diantaranya juga ada nyanyian nyanyian yang tidak saya mengerti lantaran bertuliskan aksara lontara. Singkat cerita, Bissu Daeng akhirnya diculik oleh Toakala dan dibawah ke Kerajaan Marakondang.

Penculikan Bissu Daeng, akhirnya sampai ke telinga Raja Pattiro. Seorang ayah jika tahu putri kesayangannya diculik, pastilah akan marah, begitu pula dengan Raja Pattiro, namun saking sayangnya ia kepada Bissu Daeng, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan kepada putrinya.

Singkat cerita, akhirnya Raja Pattiro berdamai dan menyetujui pernikahan putrinya dengan Raja Marakondang. Raja Pattiro kemudian mengundang Raja Marakondang bersama para menterinya untuk melangsungkan pernikahan di Kerajaan Pattiro. Marakondang dengan senang hati menyambut niatan baik ini dan segera bersama Toakala dan Menteri lainnya menuju ke Kerajaan Pattiro untuk melangsungkan pernikahan.

Sesampainya di Kerajaan Pattiro, Bissu Daeng akhirnya kembali ke istana dan bersiap-siap untuk dinikahkan. Rombongan Raja Marakondang disambut dengan ramah dan dipersilahkan menunggu di dalam ruangan yang tak berjendela.

Ketika semua rombongan masuk ke ruangan tersebut ruangan itu kemudian di kunci rapat oleh pasukan Pattiro yang dipimpin oleh Menteri Pattiro, Gallarang Bulobulo, kemudian ruangan tersebut dibakar beserta Raja Pattiro dan Toakala berada di dalamnya. Raja Pattiro dan menteri laiinnya terbakar hidup-hidup dalam ruangan tersebut hingga menemui ajalnya. Toakala dengan kesaktiannya berhasil selamat dari insiden tersebut. Namun, ia sangat menyesal dan kecewa kepada dirinya sendiri lantaran tidak dapat menjalankan amanah dan melindungi Raja Marokondang. Akhirnya dengan dipenuhi rasa penyesalan, Toakala mengutuk dirinya sendiri menjadi batu. Sedangkan Bissu Daeng sendiri merasa menyesal dengan kejadian tersebut dan merasa bersalah. Ia merasa karena kecantikannyalah yang membuat semua ini terjadi. Akhirnya Bissu Daeng bersumpah pada dirinya sendiri, bahwa kelak keturunannya yang perempuan tidak akan ada yang cantik, jikapun ada, ia tidak akan berumur panjang.

Masyarakat setempat meyakini legenda ini, dan memercayai bahwa patung batu Toakala terdapat dalam salah satu goa yang terdapat di Bantimurung.


Terima kasih sudah berkunjung di Bassicor.blogspot.com


Please FOLLOW and JOIN to get update!

Cool Social Media Sharing Touch Me Widget by Blogger Widgets


Blog, Updated at: 03.36

0 komentar:

Poskan Komentar